Nyepi ke Dalam Sajak-Sajak “Saran” Ajip Rosidi;
Anak Matahari

 

Judul buku        : Sajak-Sajak Anak Matahari (Dua Kumpulan Sajak)
Penulis             : Ajip Rosidi
Penerbit            : Pustaka Jaya
Cetakan ketiga  : 1984
Tebal                : 86 halaman

 

Ajip Rosidi - Sajak-sajak Anak Matahari
Ajip Rosidi - Sajak-sajak Anak Matahari

Dia tidak ke mana-mana,
tapi ada di mana-mana.
Dia tidak bertempat,
tapi berumah di hati.

Di penghujung tahun (peralihan 2017 ke 2018) yang hanya tinggal hitungan beberapa jam lagi. Saya menyepi sehari penuh untuk tidak terlibat melukis warna-warni pesona dunia. Karena saya percaya, di pasar, di toko, di mall, atau di tempat-tempat penjualan-perdagangan tidak pernah ada yang menjual waktu. Untuk itu kita perlu membiasakan diri menikmati waktu yang sebentar ini, sambil menunggu giliran kapan dan di mana akan tiba dan sampai kembali. Hingga saat saya menulis ini, selama itu pula saya membenamkan diri larut membersamai buku, khususnya buku antologi puisi yang terhimpun dari buah tangan pendoa (—yang merasa diri tak bersih), penyair itu bernama Ajip Rosidi. Saya melahap tuntas hidangan sajak-sajaknya dengan sekali makan selesai, tidak nambah atau harus berulang-ulang membacanya, bukan karena saya pembaca rakus apalagi orang yang tak kenyang. Tapi memang saya lapar-dahaga butuh olah batin; menyelami perenungan dan tenggelam dalam penghanyatan, sajak sanggup mengenyangkan geliat getir di hati, juga meredakan dahaga elegi di nurani. Muatan imaji, intuitif, ataupun alam rasa yang terkandung dalam hening meditasi sajak-sajak Ajip Rosidi telah menimbulkan kenikmatan dan mengalami peristiwa kekhusuyuan.

 

Dalam kumpulan sajaknya yang ketujuh ini, Ajip mengalami peralihan ke kejiwaan yang berbeda, ke perubahan yang mendasar dalam hidup manusia yaitu belajar mengenali diri sendiri, secara bersamaan pula mengenali Tuhan. Secara kontemplasi, sebagai penyair, Ajip meluaskan kepekaan rasa, sekaligus mendalamkan simpati ke arah harmonisasi dan keserasian terhadap alam dan manusianya. Suasana keagamaan kerap akrab membukakan dimensi pengalaman rohani yang lain, ditulis dalam sajak-sajak pendek yang menyaran, begitu akhir kata pengantarnya. Tampaknya tenaga sajak “saran”—yang demikian—merupakan olahan dari ciri tipologi dan epistemologi akibat gelisah zaman tempat kita hidup. Ajip mencoba menawarkan cara pandang lain melalui sajak-sajaknya, yang kalau dalam bahasa Jawa berarti jero (dalam), amba (lebar), jembar (luas), dan adoh (jauh). Tema dalam sajak-sajak Ajip bersifat universal, artinya masalah-masalah falsafi tentang kondisi manusia, kehidupan, cinta, asmara, kealam-semestaan, sampai ketuhanan yang terkandung dalam rahim dinamika sosial dan lahir sebagai gejolak kebudayaan itu telah mengajarkan Ajip supaya tetap tegar dan tenang ketika merangkum pengamatan dan pengalaman alam batinnya, lalu dituangkan ke dalam sajak-sajaknya. Kekuatan daya sajaknya ada pada pasang-surut religiusitas, gelombang rohani, serta arus-deras batin tatkala ingin berdekatan dan lebih dekat Sang Maha Penyair melalui sajak; seni adalah jalan menuju Tuhan. Dan penyair adalah karikatur zamannya.

Sajak-sajak Anak Matahari (1979) ialah buku ketiga kumpulan sajak Ajip Rosidi yang pernah saya baca, sebelumnya sempat bersentuhan dengan Ular dan Kabut (1973), bahkan begitu karib dengan Cari Muatan (1956). Dari ketiga buku tersebut, tergambar perkembangan alam rasa dan batin ke pembaruan, proses di mana sejauh apapun penyair melangkah, pada akhirnya tujuannya diri sendiri. Bertolak dari berkaca pada cermin, Ajip berusaha menciptakan bentuk sajak yang benar-benar minimalis, pendek, bebas dan amat bersifat pribadi, memang persis sebuah ‘saran’ kepada dirinya dan dari diri sendiri. Di samping itu, pengamatan tajam mata dan penghayatan luhur kasih seorang penyair, mampu meluas-mendalamkan pemandangan alam (dari yang kita bayangkan)—yang sedemikian rupa indahnya ternyata cukup dikatakan dengan sedikit kata-kata, atau mungkin tak perlu sepatah kata, karena di dalam kata setiap sajaknya tersimpan kekayaan rimba raya. Kepada cintalah, hulu-hilir, awal-akhir, pulang-pergi usai pengembaraan hati ia tambatkan, walaupun pahit-getir amat terasa.

Tuhan, alam dan perempuan merupakan tiga terminologi pokok tema yang disusun jadi dua sub-bab. Bab pertama Ingat aku dalam do’amu, sajak-sajak yang terhimpun di antaranya: ‘Pertemuan dua orang sufi’, ‘Nisan’, ‘Tandatanya’, ‘Hidup’, ‘Jarak’, ‘Sembahyang Malam’, ‘Ingat aku dalam do’amu’, ‘Aku datang, ya Tuhanku, aku datang’, ‘Sementara Thawaf’, ‘Arafah dinihari’, ‘Mina’. Berjumlah 11 anak sajak. Bab kedua Sajak-sajak Anak Matahari antara lain: ‘Di depan lukisan Sadali’, ‘Matahari’, ‘Sungai’, ‘Kolam’, ‘Wayang’, ‘Pelangi’, ‘Wajah’, ‘Topeng’, ‘Pertunjukan Noh’, ‘Harajuku’, ‘Malam Lebaran’, ‘Mesjid Yoyogi’, ‘Bambu Jepang’, ‘Pilihan’, ‘Cermin’, ‘Yang Tercatat’, ‘Kurosawa’, ‘Laut Utara’, ‘Ilalang bergelombang’, ‘Yang berkelebat’, ‘Rahasia’, ‘Lagu Musim Gugur’, ‘Do’a’, ‘Hidup’, ‘Tunas’, ‘Ombak’, ‘Kenangan’. Jumlahnya 27 anak sajak. Total keseluruhan berarti 38 anak-anak sajak. Rerata setiap anak sajak bentuknya terdiri dari satu bait dua baris, jumlahnya mencapai 20 anak sajak. Itu sebabnya, dua kumpulan sajak pendek ini disebut sajak usul mencari asal, mula menapak awal, sebagai kerja kecil dari proses alam kreativitas. Pencarian dan penemuan tidak lebih baik dibanding proses. Proses adalah suatu pertumbuhan, perjalanan dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya, bertemu kemungkinan satu ke kemungkinan lainnya. Tampaknya hal itu yang mendasari pemilihan judul buku puisi “Anak Matahari”. Artinya, masing-masing anak sajak akan terus bertumbuh dan bertumpuk-tumpuk penghayatan yang berbeda, senantiasa tetap aktual pada segala zaman. Berkat penghayatan dan perenungan pembaca, pertumbuhan anak sajak—tanpa disadari—seperti hendak menyatakan, rasanya baru kemarin, atau mungkin sudah lama sekali waktu ‘aku-sajak’ ditulis, agaknya memang keadaan tak ada yang benar-benar berubah sampai ‘aku-sajak’ tetap menjadi sebuah pembicaraan yang relevan. Lihat, pemilihan suku kata ‘anak’ dan ‘matahari’ begitu matang setelah dipikir masak-masak oleh koki handal, penyair Ajip. Anak adalah seorang yang terus tumbuh, beranjak, atau menuju. Anak di sini, perlambang batin seseorang yang mengalami kegelapan untuk bergelap-gelap dalam terang, dan berterang-terang dalam gelap. Anak merupakan ritus peralihan kondisi di mana keadaan sebelumnya, misal buruk, maka arah-nujunya baik. Upaya penyandingan-perpaduan antara kata anak dan matahari tampaknya keduanya bisa saling simbiosis-mutualisme. Artinya, (anak) kegelapan akan mencari cahaya (matahari), maka cahaya (matahari) akan menerangi (anak) kegelapan. Dalam sajak Matahari bersyair:

Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali
Di baliknya kucari yang terang: sinar si matahari!

Ketuhanan dalam Sajak

Kata ‘dalam’ mengandung arti antara penyair, sajak, dan Tuhan. Saya mencatat ada sekitar 13 (anak sajak) yang menyebut kata ‘dalam’ dengan teknik pengucapan yang dinamis dan gaya ucap yang lentur. Itu artinya, ‘dalam’ di sini, bisa jadi bermakna amat kompleks, atau bisa juga sangat ambiguitas. Masing-masing penghayatan dalam sebermula dari diri sendiri menyusuri jalan sajak; apakah mencari ataukah menemu Tuhan dalam sajak, kita tidak tahu? Bahkan, dalam doa, diterima atau tidaknya, kita juga tidak tahu. Seperti sajak Chairil:

            Tuhanku
            Dalam termangu
            Aku masih menyebut namamu

            Biar susah sungguh
            Mengingat Kau penuh seluruh

            CahyaMu panas suci
            Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

            Tuhanku
            Aku hilang bentuk, remuk

            Tuhanku
            Aku mengembara di negeri asing

            Tuhanku
            Di pintuMu aku mengetuk
            Aku tidak bisa berpaling

            (Doa, 1943)

Tuhan yang sungguh, ujar Michael M. Soge, akan diingat penuh seluruh dalam puisi Chairil Anwar adalah Tuhan yang terlebih dahulu menghendaki seseorang untuk mengingat-Nya. Apakah Tuhan baru dikenal ketika manusia dililit persoalan dan didera kesulitan hidup? Chairil dengan ‘Doa’-nya mewartakan kepada kita betapa manusia amat rapuh terhadap masalah-masalah, padahal kehidupan adalah perjalanan untuk kembali ke tempat kita berasal.

Gaya bahasa dan pengucapan mengenai Tuhan juga beragam, di antaranya: Tuhan, kita begitu dekat (Abdul Hadi WM) bisa diartikan sebagai upaya bermesraan dengan Tuhan, Tuhan, kami sangat sibuk (Gus Mus) semacam keluhan kepada kita tentang cara ber-Tuhan dan ber-agama yang serba kaku harus diatasi dengan wujud kepasrahan diri agar senantiasa mengingat Tuhan dalam keadaan apapun dan situasi bagaimanapun, Tuhan, aku cinta padamu (Rendra) itulah sajak terakhir yang ditulisnya sebelum wafat telah menyiratkan kepada kita tentang penyerahan total sebagai hamba-Nya, dan Cinta yang murni yang bukan hanya terbatas oleh keinginan adalah cinta kepada Allah semata (Rabiah Al-Adawiyah) melalui sajaknya kita diberikan peta mengenali Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Agaknya benar demikian, hanya dengan mengelilingi alam kita dapat mengetahui adanya Tuhan.

Tampaknya penyair Ajip sudah menyiasati ‘Tuhan di dalam dirinya’, dapat kita rasakan sayatan sajak ‘Arafah Dinihari’:

            Kau begitu dekat
            nafasMu menghembus hangat
            ……………...
            (Bait ke-empat)

Di bait terakhirnya, penyair Ajip menegaskan diri, bertanya kepada diri sendiri tanpa ada jawab pasti. Seraya bertanya pada cermin tentang apakah masa depan itu?

            Tapi Tuhanku, Tuhanku
            apakah patut, apakah pantas
            aku kotor keji
            Kauterima dengan iklas?

Bentuk repetisi merupakan pola yang digarap Ajip di beberapa sajaknya, pertimbangan atas kata dan titi terhadap daya ucap lagi cermat mengungkapkan visi dan pengalamannya. Beberapa contohnya yaitu, Aku Datang, Ya Tuhanku, Aku Datang, Ingat Aku Dalam Do’amu, Jarak, Sementara Thawaf, Mina, Ilalang Bergelombang, Doa, Hidup,2, dan Kenangan. Ya, pola demikian bukanlah sesuatu yang baru digarap, sebab dalam sastra, tidak ada kebaru-baruan, yang ada hanya beda. Inisiasi yang dilakukan Ajip dalam pembedaan merupakan usaha mengandalkan timbulnya efek yang liris teramat miris tapi tidak melankolis, dengan cara pengungkapan sederhana; Ajip mengulik ke-khas-an bertutur itu sendiri. Pada baris sajak lainnya, kesatuan pola antara bentuk dan isi merupakan acuan agar tidak kehilangan efek yang vital.

            Dalam diammu
            engkau sebuah tandatanya

            Dalam tandatanya
            engkau adalah jawabnya

            Dalam heningmu
            Siapa masih bertanya?
            Siapa masih menyeru?
            Siapa masih ragu?

            ………………….
            (Tandatanya)

Kentara sekali, muatan filosofi dan kadar tasawuf dikemas jadi satu-padu lewat sajak. Penyampaian bahasanya ringan tetap berisi, betapa pikiran dan sikap penyair tampak mengambang tapi sublim. Pembaca awampun tanpa perlu berat pikiran dan beban hati dahulu mungkin akan mudah memahami puisi di atas. Jadi bukan karena tidak ‘tahu makna’ lantas merasa sia-sia. Tidak. Walaupun sajak di atas menyimpan potensi sesuatu; yakni unsur protes terpendam lagi terungkapkan si penyair saat mengamati tatanan berpikir konvensional serba kaku dan macet. Dengan tangkas penyair Ajip, penawar usul sekaligus pelempar tanya membimbing untuk kita renungkan kembali apa makna hidup ini:

            Jika hidup telah kautetapkan hingga yang kecil mecil
            Untuk apa suara hati terumbang-ambing dalam sabil?

Ada banyak aspek-aspek; tersirat maupun tersurat di alam terkembang sajak-sajak Ajip. Sebermula adalah tanya, lalu kembali bertanya, begitu seterusnya mempertanyakan pertanyaan. Kemunculan pertanyaan bukan karena keraguan (/tidak tahu), melainkan upaya membuka diri supaya tidak sepenuhnya yakin pada kebenaran (yang ada di bumi manusia, yang bukan kebenaran sejati). Maka kita tidak mudah berbenturan satu sama lain, tapi sama-sama saling berangkulan.

Penyair Ajip hanya mengantarkan kita ke pintu wahana dimensi pengalaman batin-rohani. Selebihnya, membuka atau membiarkan, masuk atau tidak, bukanlah soal yang mesti dijawab, tapi wajib dipertanyakan.

Bersajak dengan Cinta Alam, Kasih Manusia

            Akan kusebrangi samudera hidupku
            dengan perahu nasibmu
           
………........
            (Pilihan)

Sajak-sajak lain dalam buku ini juga kentara mendayagunakan kata ‘dengan’ sebagai penghubung antara penyair dengan alam, penyair dengan manusia, penyair dengan segala kehidupan yang melingkupinya. ‘Dengan’ dan ‘dalam’ melimpahkan sajian interpretasi atas sajak Ajip Rosidi, kekuatan ritme lirih lagi liris menghadirkan ombak nuansa dan badai alam suasana.

Ajip dalam sajak-sajak esoterismenya merupakan tahap perkembangan alam batin penyair ke kejiwaaan baru bahwa perubahan itu pasti ada, tapi mengapa adanya sesuatu ‘yang berubah’ bukan karena perubahan itu sendiri, seperti sajak ‘Sungai’: Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama? dan Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna. Setelah melewati fase sebelumnya, lagi-lagi ia berhadapan sesuatu yang menghubungkan ke dunia gaib, dalam sajak ‘Pertunjukan Noh’ misalnya: Kata-kata purba tak tertangkap artinya / Tapi kurasakan inti di tiap adegan. Kejelian pengamatan atas peristiwa telah mengilhaminya agar senantiasa bisa merasa, bahkan sampai ke titik perasaan yang paling halus sekalipun, dalam sajak ‘Tunas’ termaktub: Pohon bertunas tak bersuara / mendapat kekuatan cahaya cinta. Sebagaimana manusia, alam adalah inti dari segala kehidupan yang ‘inheren’ dan ‘transenden’. Proses penangkapan ide imanen, serta intensitas kontemplasi telah membimbing Ajip turut merenungi dan menghayati titik-titik, lobang-lobang, atau konvensi-konvensi mapan yang menjadi tema utama dalam kumpulan sajaknya.

Terhadap kehidupan manusia, meski tidak terutama arah pandang ke sisi perempuan. Membaca sajak-sajak Ajip tidak semata berhadiah beban galau asmara—yang kalau boleh dikatakan secara umum—bisa jadi lebay. Pada posisi ini, Ajip mampu mengindahkan kegalauan yang mendayu-dayu ke ranah kegagahan dalam keterpurukan: Wajah yang puluhan tahun kukenal dari hari ke hari / Bagian akrab hidupku, tetap asing dan rahasia. Teka-teki! (Wajah). Kegetiran akan kenangan mengungkung, kadang-kadang juga membelenggu, sama sekali tidak mempengaruhi sikap keseimbangan kepenyairan Ajip bahkan hingga di titik nadir ketidaktahuan sekalipun tidak merasa pandir, senantiasa Ajip begitu memposisikan dirinya dalam bertahan. Dengan begitu, pertahanan yang baik adalah bagaimana menyikapi keadaan-keadaan itu sendiri. Hal demikian, tergambarkan lewat sajak ‘Topeng’ berbunyi: Kukenakan topeng yang cocok dengan perananku hari ini / Mengelabui orang lalu; tapi tidak dirimu. Aku apalagi!

Rentang jarak pun tak sanggup membatasi, menyekat, apalagi memutuskan benang halus antara sajaknya dengan sajaknya yang lain. Ajip berhasil menyiasati ‘jarak’ sebagai ‘kedekatan’ tanpa perlu bantuan berdekat-dekatan walaupun pasti akan menghadapi kengerian-kengerian lain yang tak mungkin terhindarkan:

            Berapa jauh jarak terentang
            antara engkau dan aku?

            Berapa jauh jarak terentang
            antara engkau dengan urat leherku?

            Tak pun sepatah kata
            memisahkan kita

            ……….
            (Jarak)

Hingga pada akhirnya kita ketahui bahwa kita adalah lakon dalam pewayangan: Bayang-bayang yang digerakkan sang dalang akan datang dan hilang, jejaknya tinggal terkenang. Kenang kembali dalam kening, kening seringkali membukakan pintu-pintu kenang seperti Ombak yang selalu menubruk pantai, siang dan malam / adakah karena desakan rindu, mungkinkah karena dendam? (Ombak) Perihal dendam dan rindu dalam kenangan merupakan hal yang paling rapuh dalam hidup ini. Namun ia bisa juga berarti menguatkan sekaligus melemahkan. Konklusi atas itu, seperti biasa, Ajip menawarkan tanya, bertanya dan pertanyaan untuk kemudian mempertanyakan kembali. Upaya Ajip membebaskan penyelesaian masalah, menyikapi keadaan, mengelola situasi telah ia tegaskan dalam sajak ‘Yang Tercatat’. Sajak-sajaknya memerangkap kita dalam kegamangan dan kebimbangan sehingga mampu membawa kita ke suatu dunia yang lain yaitu dunia antara “yang telah terjadi” dan “yang akan terjadi”:

                        1
            Katakanlah segalanya
            kecuali sebenarnya

                        2
            Seluruhnya seperti teka-teki
            yang harus kutebak sendiri

Mas Syah
31 Desember 2017


Angin Kamajaya

Dzivenx (Irfan FN)

Dream Up