J A M U R E S I#
“Mencari Asal Usul”


Mempelajari dan mencari akar sesuatu bukanlah hal yang mudah, terlebih membuka sejarah yang sudah terlampau panjang. Banyak perangkat yang harus terlibat. Tidak hanya sejarawan dan budayawan, tetapi juga arkeolog, sosiolog dan ahli geologi berperan penting dalam membongkar sejarah yang panjang.

Tulisan ini belum berdasarkan data hasil riset yang valid dari para ahli tersebut. Melainkan hanya dari penuturan secara turun temurun para ahli waris dan penduduk setempat [ Saya, Ayah, Ibu, Nenek, Buyut dana beberapa sesepuh kampung Jamuresi ] jadi, dapat dikatakan bahwa apa yang akan dipaparkan di sini adalah paparan sejarah yang bersifat oral naratif bukannya analitif yang menggunakan pendekatan arkeologis, sosiologis dan geologis, dengan harapan semoga di kemudian hari bisa menjadi bahan pemicu untuk mempelajari dan membongkar sejarah kebudayaan telah terlampaui.

 


Jamuresi. “Kampung tua yang terlupakan”. Saya beri nama sedemikian rupa dengan dugaan awal bahwa kampong ini memiliki sejarah yang panjang dan penting bagi pengembangan dan penyebaran Islam di Ciamis utara. Acuan sementara yang saya pakai adalah cerita turun temurun yang terjadi di keluarga saya sendiri dan di beberapa warga kampung Jamuresi. Tulisan ini akan saya mulai dengan mecari dan membuka asal usul nama kampung Jamuresi. Kenapa kampung ini bernama dan diberi nama Jamuresi.

Ada empat versi berbeda tentang pemberian nama pada kampung Jamuresi. Pertama, nama kampung Jamuresi ini diambil dari hasil pemendekan kata “Jambu réa di sisi” [ banyak Jambu di pinggiran kampung ] menjadi “Jambu-re-si” yang sekarang lebih populer dan resmi di pemerintahan dengan nama “Jamuresi” [ Peralihan dari kata Jamburesi menjadi Jamuresi akan dibahas secara terpisah menurut kacamata bahasa ]. Konon jaman dahulu menurut cerita nenek moyang, di kampung ini, di pinggir-pinggirnya banyak sekali pohon jambu. Dari situlah kampung ini diberi nama Jamuresi. Bukti yang sampai sekarang masih ada adalah batas kampong sebagian selatan yang merupakan lereng bernama “Hulu Cijambu” dan beberapa nama ke-RT-an yang menggunakan nama buah-buahan seperti, Cikadu [kadu = durian], Cipeuteuy [peuteuy = petay] dan lain-lain.

Kedua, pemberian nama kepada kampung ini diambil dari peristiswa longsor besar yang terjadi kira-kira tahun 1800-an yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan bedol desa. Sebahagian warga kampung mengungsi ke beberapa tempat seperti ke Cipelah Desa Kawunglarang Kecamatan Rancah, dan membuat pemukiman baru di sana. Pada saat longsor ini terjadi, dari lereng bukit yang sekarang bernama Hulu Cijambu, menggelinding batu yang besar-besar. Salah satu yang batu yang paling besar dihentikan oleh seorang resi di tengah-tengah kampung, karena kalau terus dibiarkan menggelinding ke sungai dianggap akan menutup jalanya aliran air dan menimbulkan banjir yang sangat besar. Batu yang paling besar itu bentuknya mirip dengan buah jambu air. Dari sanalah kemungkinan warga menyebut kampung ini dengan kampung yang ada “Jambu-resinya”, yang kemudian beralih menjadi Jamburesi saja. Kemudian, karena batu yang berada di tengah-tengah kampung ini ukurannya sangat besar, kira-kira berdiameter 10 meter, diberilah nama “Batu Karut”. Kata [Karut] diambil dari bahasa arab “ الكرّة” [al-kurratun – segala benda yang berbentuk bulat], atau dari kata “
القارة ” [al- qāratun – anak bukit]. Sedikit berbau mitos memang, namun begitulah adanya.



Ketiga, pengambilan nama kampung ini diambil dari bahasa arab, “جاء المراثي ” [jā’a al-marāśiy – tertimpa kesedihan] atau “ جاءالمرشوش ” [jā’a al-marsyūsyun – tertimpa tanah longsor]. Dua dugaan pengambilan nama dari “ جاء المراثي ” dan “ جاء المرشوش ” menandakan bahwa pemberian nama kepada kampung ini diduga setelah terjadinya longsor yang besar. Dua opsi ini memperkuat versi kedua, nama Jamuresi ada setelah longsor, juga mengindikasikan islam sudah masuk di kampung ini dengan adannya nama Batu Karut.

Keempat, dugaan penaamaan yang juga memiliki alasan yang cukup kuat. Nama kampung Jamuresi diambil dari ungkapan bahasa arab “ جاء إلى المراس ” [jā’a ilā al-marāsin - tiba di tempat persinggahan], diduga diberikan oleh seorang pengembara [ Di kampung saya dikenal dengan nama “Ketib Soleh”. Ketib soleh dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jamuresi. Menurut cerita, ia terdapar di Sungai Cijolang Jamuresi. Sampai sekarang nama asli dan dari mana ia berasal masih belum jelas. Nama Ketib soleh sendiri adalah sebutan dari warga, karena pada saat itu ia pernah menjadi petugas pencatat pernikahan dan dikenal sebagi orang yang shalih ] yang kemudian diduga sebagai penyebar agama Islam di wilayah Ciamis Utara.

Dari keempat versi diatas, ternyata ada hal-hal terkait yang kemudian akan bisa ditarik kesimpulan sementara. Versi kedua terkait dengan versi pertama perihal kemiripan nama yang dipakai saja, yaitu Jamburesi. Namun cara pengambilan yang berbeda. Tapi nama Jamburesi sendiri pernah digunakan oleh warga. Versi ketiga terkait dengan versi kedua. Keduanya diduga bahwa pengambilan nama Jamuresi diambil setelah longsor dan nyaris saling menguatkan. Versi keempat terkait dengan versi pertama. Meskipun kaitannya sangat jauh, tetapi memberi idikasi pemberian nama kampung Jamuresi diduga sebelum longsor terjadi. Sekalipun dengan cara pengambilan yang berbeda namun ada kaitan waktu. Versi keempat juga terkait pada versi ketiga, yaitu, pengambilan nama kampung Jamuresi sama-sama diambil dari bahasa arab. Keterkaitan versi keempat dengan ketiga memberikan petujuk lain, bahwa Islam sudah ada di Jamuresi ketika longsor terjadi. Juga diperkuat dengan adanya nama salah satu blok RT “Salem” yang juga diambil dari bahasa arab “ سلاما ” [salāman – selamat] karena blok ini selamat dari longsor.

Sementara, sebagai sebuah kesimpulan awal, nama kampung Jamuresi diambil dari kata “Jambu réa di sisi”. Penguatnya adalah nama-nama blok RT yang juga banyak menggunakan nama buah-buahan dan tumbuhan. Cikadu [kadu = durian], Cipeuteuy-Pasir Peuteuy [peuteuy = petai], Cikembang-Pasir Kembang [kembang = bunga], Cikupa [kupa = buah gowok], Peundeuy [peundeuy = sejenis petai], Cikonéng [konéng = kunyit]. Juga diperkuat dengan adanya kehidupan di kampung ini yang jauh lebih tua sebelum kedangan Ketib Soleh meskipun belum diketahui dahulu bernama apa, sebab keterangan tertulis mengenai kampung ini masih dalam pencarian. Ada beberapa tulisan Ketib Soleh yang bisa dijadikan acuan, namun keberadaannya masih dalam pencarian sebab diselamatkan oleh para muridnya saat longsor dan beberapa peninggalan yang masih sedang dibaca. Juga dengan keberadaannya batu tulis yang berada di kampung Citapen Landeuh.

 

 


Angin Kamajaya

Dzivenx (Irfan FN)

Dream Up