Ada tiga mode kertas (bukti sah secara hukum) penonton teater, setahu yang saya amati di antaranya ialah membeli tiket, dengan berdonasi, dan diberi undangan. Bahkan, adapula yang tanpa tiket alias gratis. Seringnya memang melakukan transaksi ‘jual-beli tiket’, pun ada juga yang melalui jalur ‘donasi’. Kira-kira begitulah syarat para penonton yang ingin menonton pertunjukan teater. Terminologi tersebut ditentukan oleh kelompok teater itu sendiri dengan memilih satu dari tiga pilihan di atas.

 

Bukan Rumah Gue, Foto Angin Kamajaya

Ironisnya, adalah ketika donasi dilabeli (dibandrol) dengan harga persis seperti transaksi resmi. Dalam tiket, harga ditentukan sekian. Sedang donasi, ada penyesuaian minimal dan tanpa maksimal. Apa sebetulnya donasi? Setiap jawaban dari kita tentu berbeda-beda. Dan saya tidak ingin membenarkan kesalahan tersebut—yang bagi saya itu adalah kekeliruan. Jadi baik kita pahami, bahwa donasi merupakan sumbangan sukarela, sukahati dan sukasenang. Siapapun diperbolehkan atau tidak berdonasi bukanlah soal, perkara berapa jumlah donasi yang disumbangkan itupun tidak patut kita serius diskusikan, apalagi dipaparkan di sini. Akan tetapi, kalau donasi sudah dipatok angka, itu namanya kalkulasi. Hitung-hitungan jual-beli dan untung-rugi. Tak ada bedanya dengan (berdagang) tiket. Agaknya, penting dicatat tentang kebijakan “syarat penonton” harus disimulasikan ke ranah konsistensi.

 

Undangan? Berarti turut mengundang, artinya yang datang sama dengan memenuhi undangan. Undangan bisa berupa ajakan, melalui surat, ataupun mendapatkan secarik tiket secara cuma-cuma. Dapat kita katakan, ‘undangan’ dan ‘gratis’ adalah dua hal yang berbeda untuk satu tujuan yang sama yaitu mengapresiasi. Tapi apresiasi tidak dimulai dari undangan ataupun bermula dari gratisan belaka, apresiasi ialah benih yang ditanam-suburkan dalam kesadaran seni personal atau individu, tanpa kandungan zat pestisida dusta bagi tanah sastrawi, khususnya drama sebagai ladang yang terasing. Kesadaran tersebut akan membuah-wujudkan ketenangan dan kedamaian bersama saat pementasan sedang berlangsung.

Sebagaimana undangan, ialah kesediaan menghadiri dan keterbukaan apresiasi. Entah, hal itu akan dibenarkan atau pasti disalahkan. Lalu bagaimana mesti menyebut itu undangan jika mendapatkannya diharuskan donasi terlebih dahulu, gamblangnya berarti membeli tiket. Karena tertera sekian nominal untuk menebus undangan (menonton pertunjukan).

Dengan undangan sejelas-jelasnya mengundang, artinya undangan akan dibagikan kepada orang yang telah dikhususkan dan diperkenankan hadir. Siapapun orangnya, tidak berbatas dinding identitas atau status sosialnya. Sebagai tamu undangan (saya mengatakan demikian sesuai penjelasan di atas) seperti lainnya, tidak bisa tahu, apa motif para undangan yang sedia datang menonton pertunjukan. Yang pasti beragam dan ada hubungannya dengan para pemain ataupun kelompok teaternya. Pendek kata, para undangan ini yang nantinya akan menjelaskan (non verbal) kepada kita pesan moral yang terkandung dalam pementasan saat pertunjukan masih berlangsung; antara menikmati atau membosankan.

 

 

Ini bukan kali pertama, saya dibersamai spektator yang bikin menjengkelkan dan membuat diri tidak betah duduk menonton lama-lama. Saya mengantongi alasan demikian bukan karena telah mencermati kesalahan dan keburukan penonton undangan. Ketidakmampuan bakat saya telah menjelaskan dengan gagap untuk diri sendiri tentang apa salah mereka ini-itu, gagal paham sana-sini. Dan kefasihan saya hanya mampu berkata: suutttt… Sekaligus lamat-lamat membatin, inilah mode spektator yang alpa etika menonton pementasan. Barangkali benar, undangan ialah kendaraan penonton, dan amat disayangkan kalau undangan disebar-luaskan ke tangan-tangan—yang justru tak berperasaan apresiasi terhadap seni pertunjukan. Kebanyakan mereka (penonton yang hadir) hanya asik-sibuk pada kesenangan dan kegembiraannya sendiri tanpa peduli proses pementasan, bahkan acuh tak acuh saat pertunjukan masih berjalan.

Disebabkan undangan ‘liar’ telah membuahkan mosaik penonton yang merasa diri berprestise, tapi abai pada spektakel. Walaupun kita tahu, syarat pertunjukan adalah penonton. Mungkin itulah yang mendasari Jerzy Grotovsky agar melakukan upaya pembatasan jumlah penonton, namun tetap mempunyai penonton. Sebab, ujar Grotovsky, tidak mungkin teater tanpa penonton. Hal itupun kemudian disanggah oleh Danarto, dengan meng-klaim “teater tanpa penonton” itu perlu.

Pemaknaan atas pandangan keduanya tentu berbeda. Danarto menegaskan bahwa pementasan bukan hanya panggung bagi para pemain, penonton juga punya peran seperti aktor. Dengan melibatkan penonton dalam pementasan, Danarto bermaksud menjebol dinding pembatas pemanggungan konvensional—yang telah disadari—karena menciptakan sekat. Yang mana jika hal itu dilakukan mungkin berujung fatalistis, sebab akrobatik rentan gagal bila ditilik dari segi teknisnya.

Berkaca dari undangan bahwa kita memang tidak sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan sebuah kata. Terhadap satu suku kata ‘undangan’ pun kita tidak benar-benar paham sangkan-parannya. Kita terbiasa mengutil penggunaan kata dengan gaya berbahasa ruwet dan sengkarut. Sehingga kata ‘undangan’ dengan begitu mudahnya kita cederai artinya, bolak-balik tatanan maknanya. Sampai kata tersebut seraya ingin berucap sendiri, bahwa tanpa manusia, aku-makna bisa berdiri sendiri.

***

Bukan Rumah Gue, Foto Angin Kamajaya

Di luar gedung yang megah, pusat perbelanjaan, mall, super mall yang semakin riuh, jalanan mulus penuh dengan mobil-mobil mewah, pesta-pesta yang meriah, reklamasi yang menjadi perdebatan, di luar semua itu, penggusuran, perampasan tanah rakyat, kemiskinan, angka pengangguran makin bertambah, ibu-ibu yang anaknya ditolak di rumah sakit karena miskin, pendidikan yang semakin mahal, anak-anak muda yang menjadi generasi dengan selera yang beragam, kerusakan sumber daya alam terus berlangsung dan sepertinya tak tertahankan.

Proses dehumanisasi, pemiskinan dan pembodohan sedang berlangsung di rumah kita, semua kebijakan yang dulu diabadikan untuk melindungi nasib semua orang, dilucuti dan digantikan dengan kebijakan yang hanya menekankan pada kemauan pasar di mana kepentingan dan keuntungan menjadi orientasi utama.

Rumah kita telah sesak, dipenuhi oleh pertarungan dan perdebatan seperti itu. Gue digiring pada situasi seperti itu, yang secara sadar atau tidak sadar, telah merenggut yang gue miliki, kebersamaan, kegotong-royongan dan sikap perduli kepada sesama, kebanggaan terhadap Rumah dengan beragam warna dari isinya hampir ludes, habis terkuras. Gue rindu bulan yang tak lagi purnama di kota ini.

Prolog di atas saya kutip dalam Bukan Rumah Gue, drama realis yang dipentaskan selama kurang-lebih berdurasi tiga jam, R. Mono Wangsa mewartakan kepada spektator perihal suasana-kondisi rumah yang berisikan keluarga besar, tampaknya keunggulan rumah besar (materi duniawi) tidak benar-benar membebaskan jiwa seseorang yang menghuninya, malah justru kemegahan dengan kuat mencengkram dalam kesempitan melalui aneka keterpurukan. Satu-satunya jalan pembebasan alam batin adalah ruwatan. Pada ruwatan kali ini—yang juga merupakan tradisi lima tahunan sekali—anggota tiap masing-masing keluarga dengan segala permasalahan tanpa akhiran konklusi, malah membongkar keburukan-keburukannya sendiri.

Keburukan adalah apa yang tersimpan di dalam, dan perbaikan adalah apa yang tercermin di luar diri kita. Seburuk apapun aib keluarga, ia mesti di simpan dalam-dalam, rapat-rapat dirahasiakan. Itu bukanlah suatu perbincangan yang baik untuk dibicarakan apalagi didiskusikan. Dalam dramanya, Mono menitik-beratkan ragam masalah yang melingkari sebuah keluarga. Ia selaku sutradara, hendak mengurai adegan konflik demi konflik, yang mana seringkali tak jelas juntrungannya lantaran berloncat-lompatan. Agaknya mungkin benar demikian, mementaskan drama realis tidaklah mudah.

Rupanya saya tidak tahan dipertontonkan drama yang mengarah pada keburukan dan kejelekan sebuah keluarga. Sudah terlampau sering kenyataan mempertontonkan hal buruk yang mengantarkan kita ke arah kemungkinan mencontoh atau memperbaiki. Kedua indikator tersebut telah menjelaskan, seperti kata Emha, pada orang seburuk apapun kita mencari kebaikannya, bukan pada orang sebaik apapun kita mencari keburukannya. Karena kebahagiaan hidup keluarga besar yang sedang ditimpa masalah-masalah tergantung pada kesiapan mental menyikapi keadaan-keadaan itu. Akan tetapi itikad dalam Bukan Rumah Gue, baru mensiasati ruwatan sebagai proses wujud kepasrahan. Penyelesaian dengan ‘ruwatan’ tampaknya tidaklah sakal, itupun memang bukan konklusinya.

Tapi frasa Bukan Rumah Gue, malah mengajak saya untuk bernalanala. Sebab dalam prolog, deskripsi adegan, ataupun dialog, tidak sekalipun kalimat itu disebutkan. Pasase ‘Bukan Rumah Gue’ menggambarkan kompleksitas karikatur masalah rumah (tanah air kita) dengan segala komplikasi penyakit yang sukar ditemukan obatnya. Usai menonton, rasa ingin mendedah bergairah, imajinasi dan interpretasi saya berkutat pada judul naskah tersebut. Di mana setiap aktor tidak mengungkapkan ini bukan rumahnya, tapi tak akan bisa menipu diri sendiri meskipun merasa baik-baik saja padahal keadaan rumah saling silang sengkarut di ujung kalut. Begitupun, setiap penonton yang hadir, tidak pernah terbayangkan sebelumnya apabila suasana rumahnya demikian, ia pun beranggapan seraya berdoa agar keadaan tersebut tidak menimpa keluarga, secara tegas berkata dalam hati itu Bukan Rumah Gue. Mono dengan cergas, sudah mewanti-wanti penuh kehati-hatian dalam memainkan drama tersebut, walaupun dari sana-sini pementasannya belum memuaskan kecerdasan estetis di samping kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang telah ia suguhkan dalam pertunjukannya.

Mas Syah
26 Desember 2017


Angin Kamajaya

Dzivenx (Irfan FN)

Dream Up