Catatan selepas menonton pertunjukan monolog Teater El-Na'ma ala guwe.

Sebaiknya, sebelum membaca, anda sudah memastikan diri memiliki segelas kopi, berbatang-batang rokok, tissue dan tentu jangan tertinggal, kesiagaan memencet tombol close untuk segera menutup tulisan ini ketika sudah mulai muak. hehehehe...

Ciputat, 12 Maret 2017. Saya tidak jadi pelesiran ke Tasikmalaya (gak penting banget). Sebagai gantinya, saya memutuskan untuk menonton monolog meski dengan perasaan sedikit memaksakan diri sebab mood menonton sedang buruk. Sebab dengan menonton pertunjukan drama, kadang-kadang bisa menambah gairah kreatifitas dan mengembalikan mood yang buruk menjadi baik. Ya, meskipun ketika langkah kaki pertama menuju gedung pertunjukan sudah memiliki niat tidak baik -mencari kesalahan dan kelemahan pertunjukan-  tapi niat itu, sesekali, bisa hilang begitu saja ketika pertunjukan yang ditonton memang memuaskan.

Catatan ini, tadinya, akan dibuat dua sesuai dengan pertunjukan yang saya tonton. Namun setelah makan, ngopi, dan merokok, saya cukupkan satu saja. Selain menghemat kopi dan rokok selama mencatat, juga, saya tak ingin menjadi cocoters yang melampaui kapasitas dan kemampuan saya. Lagi pula, catatan ini adalah sebagian cacatan yang mampu ditangkap oleh indra saya (subyektif banget ya).

 

 

Teater El-Na’ma Indonesai; Membaca Putu Wijaya. Dengan sengaja dan sadar saya buat judulnya seperti itu. Selain kece di mata saya, judul catatan ini saya yakini mampu membuat penasaran orang yang melihat dan membacanya juga. Hahahahahaha...mulai ngawur ini…baiklah, mari kita mulai.

Dua pertunjukan yang saya tonton, pertama ‘Kursi’, kedua ‘AH’, telah memberikan banyak pertanyaan dan pernyataan dalam kepala saya. Artinya, barangkali, memang pertunjukan ini telah berhasil membuat saya berfikir dan bertanya, kok bisa? Kok begitu? dan lain-lain. Ah, jangan-jangan, apa yang ada dipikiran penonton lain juga sama dengan apa yang ada dipikiran saya. Tapi nampaknya berbeda, sebab penonton yang lain, ada yang tertawa dengan begitu renyahnya.

Sebagaimana biasanya Putu Wijaya, yang saya tangkap, biasanya menawarkan satire bahkah satire-comedic dalam setiap karyanya. Baik itu karya tulis, atau karya pertunjukan yang ia mainkan bersama kelompoknya. Saya juga meyakini, bahwa naskah ‘Kursi’ dan ‘AH’, keduanya mengandung satire. Saya jadi curiga, apakah penonton yang lain -selain saya- juga menangkap hal yang sama?

Pada naskah Kursi, sebagai teks tulis yang kemudian dioralkan, sudah bisa tertangkap bahwa naskah ini sedang membicara perebutan posisi atau jabatan. Dengan segala macam cara, orang bonbondong-bondong untuk mendapatkannya. Ini sebenarnya, relevansi dengan kenyataan manusia Indonesia saat ini khususnya, menurut saya pas! Momentum mengakat naskah ini, dengan kondisi perpolitikan Indonesia sekarang, bisa dikatakan cocok.

Teater El-Na'ma; Kursi 2017

Pada naskah kedua, atau AH, teks ini mengajak kita untuk meninjau kembali perilaku dokter Indonesia yang berada di daerah terluar atau terpencil dalam negara kita. Juga melihat dan membaca kenyataan masyarakat negeri kita yang jauh dari kota. Jauh dari kota tidak lantas berarti primitif, terbelakang, tidak memiliki pengetahuan, dan tidak memiliki peradaban. Kita hanya berbeda cara pandang dan menyikapi hidup saja.

Cocotan saya, tidak akan dan sedang malas untuk membahas relevansi naskah dengan kenyataan saat ini atau pun membicarakan bagaimana Teater El-Na’ma Indonesia membaca Indonesia melalui Putu Wijaya. Meskipun, pada akhirnya, hal itu sedikit mempengaruhi teknis penyajian dan penciptaan pertunjukan. Namun, saya lebih tertarik, dan saat ini ingin lebih banyak nyocot apa yang saya tangkap oleh indera visual dan audial. Ini saya lakukan dengan sadar, karena saya yakin, sejatinya El-Na’ma sudah bisa menangkap esensi yang ada pada teks drama tersebut.

 

Imajinasi yang Terlalu Sederhana

Dari pertunjukan yang disajikan, bagi saya, tak satupun yang berhasil memanjakan mata dan pendengaran. Sebab bagi saya, ketika menonton, yang pertamakali harus dimanjakan adalah mata. Meskipun, disaat yang berbeda semua itu kadang menjadi tak penting lagi. Namun, kesan visual (opening, tata cahaya, busana, set, dll) bisa membawa dan membimbing penonton untuk masuk kedalam imajinasi dan pesan yang ingin disampaikan. Selain opening yang visual, bisa juga dilakukan dengan audial, misalnya, membuat musik pembuka yang mampu menggiring penonton memasuki ruang imajinasi dan membuat rasa penasaran bergejolak dalam diri penonton. Sayang, bagi saya, kedua pertunjukan, openingnya kurang greget. Sehingga lima menit pertama pertunjukan langsung membuat bosan.

Pada pertunjukan pertama, selain gagal menyajikan opening yang nampol, imajinasi yang terlalu sederhana juga nampak pada tata panggung. Ya, hampir semua dari kita tahu, kredo Putu Wijaya itu “berangkat dari yang ada” tetapi artinya bukan harus membuta kita menjadi pasrah pada kenyataan. Bahwa kursi-kursi gedung (kadang sering jadi kursi prasmanan kawinan) yang dijadikan set panggung adalah hasil kreatifitas penuh imajinasi, tapi itu malah cacat fungsi secara visual. Ia tak mampu mejadi simbol kursi yang dikultuskan dalam teks. Bagi saya, distorsi yang dihasilkan dari kaki-kaki kursi ketika memantulkan cahaya lampu panggung gagal memasuki dan gagal kawin dengan pertunjukan.

Kemudian, properti (kursi sebagai property yang diverbalkan dari teks), juga yang lainnya, kurang menolong aktor dan malah cenderung membunuh aktor di atas panggung. Hampir sepanjang pertunjukan, aktor tidak bebas bermain dan memainkan imajinasinya. Sang aktor terlalu terpaku pada kursi yang verbal. Ia tak berani bermain-main dengan imajinasi yang sedang menyoal kursi (semoga ini hanya karena jam terbang saja). Sungguh, “kursimu membunuhmu”.

Begitu pula tata cahaya yang menurut hemat saya, tidak mengundang selera mata. Sekalipun, cahaya hanya unsur tambahan dalam sebuah pertunjukan drama, tapi ketika penyajiiannya hanya sekedar dan cenderung kurang serius, itu malah menghacurkan suasana dan bangunan suasana yang diciptakan oleh aktor.

Sruput dulu kopinya…supaya segar lagi…hehehehehe


Teater El-Na'ma; AH 2017

Secara umum, pertunjukan kedua hampir memiliki kecacatan yang sama dengan pertujukan pertama. Hal yang fatal (menurut selera saya) dalam pertunjukan kedua, adalah ketika perpindahan atau pergantian set panggung. Teknik blackout (memadamkan penerangan panggung untuk ganti babak, ganti kostum, ganti set panggung) dengan maksud flashing, menandakan kurang liarnya imajinasi penyaji mensiasati pergantian set. Artinya, penggunaan set, properti, untuk pertunjukan kedua tidak efektif dan cenderung merusak imajinasi visual.

Saya pikir, sudah sepantasnya, Teter El-Na’ma, sebagai grup yang sudah bukan lagi pemula, sekalipun ini adalah pertunjukan pemanasan untuk pertunjukan yang sesuangguhnya, kedala seperti yang sudah saya sebutkan di atas bisa diatasi dengan kreatifitas dan imajinasi yang lebih bebas, liar, dan merdeka.

 

 

 

Terjebak teknik permainan.

Pada wilayah permainan, atau penerjemahan aktor dan terhadap teks tulisan menjadi teks gerak dan suara, kedua pertunjukan sama-sama terjebak dalam permainannya sendiri. Pertunjukan pertama, sang aktor kehilangan kewajaran dramatik. Ia tak mampu menciptakan suasana yang dibawa dalam naskah. Permainannya, cenderung dan terasa tergesa-gesa. Tidak memiliki kesabaran dan menikmati permainan. Bahkan, saya merasa ia cederung memuntahkan kata-kata seperti stand-up comedy di televisi.

Kata-kata berloncatan begitu saja tanpa muatan imajinasi. Kalimat-kalimat yang ia oralkan tak mampu menyampaikan pesan-pesan yang ada dalam teks. Sungguh, permainnya tak mampu membawa saya khususnya, memasuki ruang imajinasi yang maha bebas. Terlebih, membawa saya pada pemahaman akan kursi sebagai sebagai sesuatu konsep kenyataan perebutan kekuasaan dan kursi sebagai sesuatu yang kultus dalam persaingan hidup.

Pada pertunjukan pertama, saya tak mampu merasakan jeda dan ruang untuk sekedar sedikit mencerna dari satu masalah ke masalah yang lain yang ingin disampai oleh Putu Wijaya (semoga ini hanya jebakan jam terbang saja).

Pertunjukan kedua, jebakan terbesarnya adalah pada pemilihan biografi tokoh. Sosio-antropologi tokoh yang dimainkan bagi saya tak mampu menyampaikan esensi naskah yang ingin membicarakan masalah Dokter di pedalaman atau bagian terluar Indonesia yang beda kultur dengan si Dokter.

Pilihan karakter dokter sebagai orang ambon (semoga saya yang salah), telah membuat saya bingung, dia ditempatkan di wilayah mana. Sebab, dalam cerita, ia memiliki perbedaan kultur dengan lokasi dia bekerja. Bagi saya, ini kesalahan membaca dan menerjemahkan sosio-antropologi naskah.

Terkahir, sebenarnya, ini cocotan ini sangat tidak bijak. Sebab, saya tidak mengikuti proses penciptaan. Sehingga, kritik saya hanya sebatas dari tangkapan sesaat usai pertunjukan. Namun, Karena tangan gatal dan pikiran nakal, akhirnya saya nyocot juga sebagai apresiasi untuk Teater El-Na’ma yang selalu berkarya.

Selamat Teater El-na’ma Indonesia. Jangan berhenti berkarya dan tetaplah merdeka.

Demikian, cocotan saya, semoga tidak bermanfaat.     

 

Angin Kamajaya


Angin Kamajaya

Dzivenx (Irfan FN)

Dream Up