Otokritik ala gue. Bacanya sambil minum kopi dan merokok supaya tidak muntah.

…….

Pada umumnya, sebuah sajian pertunjukan drama atau teater sering menuai kritik. Baik itu kritik tekstual -terhadap naskah- maupun visual -terhadap pertunjukan- biasanya dilkukan oleh penikmat atau posisi saya seabagai penonton. Namun, kali ini saya akan mengkritisi secara subyektif apa yang saya dan kami lakukan bersama-sama di Postar dalam mempersembahkan drama musikal Dongen Tuan. Anggap saja ini semacam otokritik yang subyektif.

Kami, postar, pada bulan april 2016 pernah bercita-cita ingin membuat perjutukan drama musikal untuk haplah pentas tunggal Postar yang merupakan agenda tahunan kami. November ini, tepatnya 4 November 2016, kami berhasil mewujudnya. Tentunya rasa haru dan bangga, kini berbaur menjadi rasa bahagia yang tak terbendung. Nyaris diluar dugaan, kami mampu membuat pertunjukan drama musikal. Tetapi nyatanya kami mampu dan bahagia.

 

 

Lorong Gelap

Drama musikal, seperti renyah diucapkan. Nampak seperti seni populer pula. Tetapi ternyata, setelah kami memutuskan memilih drama musikal sebagai persembahan pentas tunggal postar untuk edisi tahun 2016, kami memasuki lorong gelap yang panjang dan penuh rintangan. Beruntungnya, kami tidak berjalan sendiri-sendiri, kami postar, kami bergandeng tangan berjalan memasuki lorong gelap bersama-sama.

Sejak memutuskan pemilihan konsep penyajian pentas, terpilihlah pula tema yang ingin kami angkat. Dongeng, itulah yang ingin kami sampaikan. Selain dongen merupakan bagian dari kekayaan kesusastraan, dongen pun kadang menjadi ukuran perkembangan peradaban sebuah tempat.

 

 

 

Setelah menetapkan pijakan awal untuk pentas tunggal, yakni, drama musikal dengan tema dongeng dari riau, perjalanan pun dimulai. Hal yang pertama kali kami pilih adalah jenis musik yang akan kami jadikan pegangan utama, maka terpilihlah jazz. Jazz? Ya, Jazz. Bukan karena skill bermusik kami sudah baik, melaikan kami mengambil semangat kebebasan dan kemerdekaan pada Jazz. Tetapi kenyataannya, yang kemudian hadir adalah musik pop kontemporer berbau melayu.

Tahap berikutnya adalah proses seleksi dongen dan pengadaptasian dari teks dongen menjadi teks drama, musikal! Di sinilah kami mengalami hambatan pertama dan banyak melakukan kesalahan.

Pertama, riset kami megenai drama musikal tidak lengkap. Kami hanya riset pada video yang beredar di internet. Betul, kami menonton video drama musikal karya Andrew Lloyd Weber, The Cats! Juga kami menonnton Annie, Oliver, The Phantom of The Opera, les Miserables, bahkan kami menonto tiga versi drama musikal Jesus Chirst Superstar. Kesalahannya adalah, kami tidak meriset perkembangan drama musikal di negara kita. Bagaimana mereka bisa mewujudkan dan menciptakan drama musikal di negara Indonesia yang infrastruktur keseniannya belum memadai untuk drama musikal. Namun kenyataannya mereka bisa, maka kami pun bisa. Kami hanya punya pikiran, kalau Laskar Pelangi saja bisa menjadi drama musikal, maka dongen pun bisa.

Kedua, cita-cita kami tinggi, sekalipun kenyataannya sunggung berat untuk mencapainya. Sehingga, tujuan kami yang utama adalah memainkan drama ini dan berusaha menjauhi drama kabaret. Berat, ya, sebab kesalahannya berikutnya adalah, kami tidak menemukan dan mencari dengan sugguh-sungguh teks drama musikal yang pernah dimainkan. Ditambah pula drama musikal yang kami tonton sebagai referensi jauh sekali jaraknya, kebudayaanya, situasinya, juga sikap hidup manusianya. Sehingga hanya karena takut berdekatan bahkan sampai dicap bahwa drama kami hanyalah drama kabaret, melodrama, atau bahkan drama “india-indiaan” seperti yang sering disajikan di televisi. Namun nyatanya, karena kami menutup mata dengan kacamata kuda, harus diakui bahwa pada akhirnyya kami hanya satu tingkat menjauh dari kabaret, melodrama dan drama yang diselingi lagu seperti di televisi.

Kami tersandung oleh sikap kami sendiri yang tidak mau mencari dengan gigih bagaiman bentuk teks drama musikal yang belum dipanggungkan. Akhirnya, kami meraba proses penciptaanya, sebab tak mau bertanya, bagaimana proses drama musikal diciptakan. Apakah pemain direkrut dan diseleksi setelah teks sudah beralih wahana menjadi musik? Ataukah musik, hadir dan mengalir begitu saja dalam perjalan pencarian karakter oleh para aktor seperti halnya penciptaan musik drama pada umumnya? Sekarang kami punya jawabannya.

Saya pikir, kami hanya diuntungkan oleh cita-cita yang kami miliki. Juga diuntungkan, bahwa kami, postar, adalah ruang kreatifitas mahasiswa penuh cinta dan persaudaraan. Kebodohan dan kemalasan yang ditutup-tutupi akhirnya tertolong dan diuntungkan oleh semangat untuk menyelesaikan dan menunaikan cita-cita. Juga rasa cinta diantara kami telah mengeratkan kami memasuki lorong panjang menciptakan drama musikal ala postar.

Akhirnya, kami tetap berhasil selamat keluar dari lorong panjang dan gelap. Ya, harus kami akui dengan penuh kesadaran, bahwa kami keluar dengan penuh cacat dan lebam di mana-mana. Kami masuk ke dalam lorong gelap yang belum pernah kami lewati. Kami memasukinya hanya dengan semangat dan keyakinan mampu menyelesaikan cita-cita, bahwa lorong gelap yang kami lewati pasti ada ujungnya. Dan sekarang, dengan luka dan lebam yang tak bisa ditutupi, kami sudah keluar dari lorong gelap dan menyelesaikan cita-cita kami tahun ini. Sekarang, kami sudah sedikit lebih siap untuk membuat drama musikal lagi.

 

Teknik yang minim vs kekurang gigihan latihan

Bagaimana pun, menyajikan pertunjukan drama bukanlah suatu yang mudah. Terlebih ketika rasa malas untuk latihan dan melatih diri masih lebih besar dari keinginan menggapai cita-cita. Ini lah kesalahan yang ada di hadapan dan di dalam diri yang sulit diajak berdialog.

Akhirnya, setelah pentas, kami menyaksikan, bahwa kesungguhan, kegigihan, keuletan, fokus, intensitas serta totalitas dalam latihan dan melatih diri ternyata tidak bisa disepelekan. Karena kadang-kadang, waktu yang panjang dalam proses tidak selalu memberikan jaminan keberhasilan sebuah pentas. Terbukti, bahwa proses dan latihan kami yang panjang -april-november-, masih menghasilkan teknis yang cacat.

 

 

Kemalasan mengolah diri dan mempelajari teknik, oleh para pemain khususnya, masih dikesampingkan. Sebagian besar dari kami, hanya berlatih di tempat latihan. Di luar tempat latihan, kami sering melupakan bahwa kami sedang menjalani sebuah proses penciptaan. Ini sulit diajak berdialog. Pemetaan waktu dan manajemen diri masih kalah oleh rasa malas. Rata-rata, kami datang ketempat latihan hanya untuk menunaikan tugas anggota, dan mencoba setia pada cita-cita. Itu saja. Kami kurang berusaha untuk menciptakan karya yang baik dengan sepenuh jiwa. Kami masih kalah oleh ego sendiri, terlebih ketika ego kami saling bertabrakan. Kami tak mampu memisahkannya dengan situasi latihan.

Dalam drama ini, elemen musik, sebagai kulit wajah pertama, akhirnya hanya mampu menyajikan musik yang biasa-biasa saja. Padahal kami sadar, seadaninya mau rendah hati, kemudian mengolah diri dengan tekun, tentu akan menghasilkan musik yang baik. Selain genuine, tentu akan memiliki ke-has-an yang tidak akan dimiliki oleh orang lain. Tapi itu tadi, kami terlampau malas untuk mengolahnya. Jadinya, kami hanya sampai pada titik yang mungkin sudah pernah dicapai juga oleh orang lain. Musik sebagai tonggak utama dalam drama musikal hanya tersaji sebagai musik popular saja.

Begitu juga dengan para aktor, kekuranggigihan dalam berlatih vokal yang kemudian mempercayakan pada alat bernama mikropon clip-on, telah menghasilkan cacat yang paling menonjol. Seandainya saja kami lebih gigih, dan berusaha mengejar power vokal para penyanyi opera, tentu kami tidak akan bergantung pada clip-on. Sebab ternyata, menggunakan clip-on tidak mudah. Kami terlalu yakin, hanya karena mampu menyewa klip-on, kami jadi lalai dalam melatih vokal. Selain power vokal yang lemah, kami pun masih sering kehilangan tone dan nada dasar, ini pun kami tak kuasa melawan rasa malas untuk memperbaikinya di luar tempat latihan.

Tubuh, yang merupakan alat utama seorang aktor setelah vokal, juga lalai kami olah dengan baik dan penuh kegigihan. Sehingga kemungkinan-kemungkinan dalam bergerak tidak bisa kami jangkau dengan banyak pilihan. Malahan, kami lebih sering terlihat fals bergerak. Kami tidak sampai pada keluwesan dan kewajaran estetika pemanggungan.

Di luar itu semua, teknik yang tidak tergarap dengan baik adalah kerjasama dengan penata cahaya dan penata suara yang direkrut lebih terakhir. Ini bagian teknis yang lumayan fatal. Seharusnya, kami punya penata suara sendiri dan penata cahaya sendiri, sehingga, sekalipun soundsystem dan lampu sewa, tapi tidak menyerahkan konsep suara dan cahaya pada orang yang tidak ikut dalam proses penciptaan.

Saya kira, pentas drama musikal kali ini, jauh dari kata baik dalam urusan teknis. Namun, kami masih sedikit pantas berbangga, bahwa pementasan tunggal tahun ini, sedikit lebih baik dari tahun yang sebelumnya. Semoga, tahun depan, kami bisa menambal dan memperbaiki kekurangan kami tahun ini.

Terakhir, saya hanya bisa berkata, bahwa kami akan selalu berkarya. Baik-buruk biar waktu yang menjawabnya. Kami Postar akan selalu berusaha untuk selalu menjawab tantangan sesuai dengan perkembangan jaman. Terimakasih. Aku Cinta  Padamu.

 

Angin Kamajaya


Angin Kamajaya

Dzivenx (Irfan FN)

Dream Up